Sampingan

RANGKUMAN FILSAFAT AJARAN IBNU SINA

BY : YATMIZIA ILHAM

RIWAYAT HIDUP IBNU SINA

Ibnu Sina dilahirkan pada masa kekacauan,dimana khilafat Abbasiyah mengalami kemunduran dan negeri-negeri yang mulanya berada dibawah kekuasaan khilafat mulai melepaskan diri satu persatu. Diantara daerah-daerah yang berdiri sendiri ialah Daulat Samani di Bukhara, dan diantara khalifahnya ialah Nuh bin Mansur. Pada masa khalifah tersebut tahun 340 H (980) di desa Afsyanah,suatu tempat dekat Bukhara, di Transoxiana (Persia Utara) Ibnu sina dilahirkan dan dibesarkan. Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina. Ayahnya berasal dari Kota Balakh kemudian pindah ke Bukhara pada masa Raja Nuh ibnu Manshur dan diangkat oleh raja sebagai penguasa di Kharmaitsan, satu wilayah dari kota Bukhara. Di kota ini ayahnya menikah Sattarah dan dikaruniai tiga orang anak; Ali, Husein (Ibnu Sina), dan Muhammad.
Ibnu sina menunjukkan prestasi intelektualnya yang independen danIamempunyai ingatan dan kecerdasan yang sangat luar biasa sehingga pada saat menjelang usia 10 tahun ia telah khatam al-Qur’an dan sebagian besar sastra arab (adab) sehingga orang-orang merasa kagum atas prestasinya.Dari mutafalsir Abu Abdellah Natili, Ibnu Sina mendapat bimbingan mengenai ilmu logika yang elementer untuk mempelajari buku Isagoge dan Porphyry, Euclid dan Al-Magest-Ptolemus. Dan sesudah gurunya pindah ia mendalami ilmu agama dan metafisika, terutama dari ajaran Plato dan Arsitoteles yang murni dengan bantuan komentator – komentator dari pengarang yang otoriter dari Yunani yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Arab.
Ketika menjelang usia 18 tahun dengan ketajaman otaknya ia telah menguasai logika fisika, dan matematika, sehingga tidak ada lagi yang tersisa baginya kecuali metafisika. Dan setelah membaca Metafisika Aristoteles sebanyak 40 kali, ia masih belum bisa memahami maksud dari pengarangnya. Sehingga secara kebetulan ia menemukan sebuah salinan dari buku Maksud-maksud Metafisika Aristoteles, yang seketika itu juga memberi petunjuk padanya apa yang Aristoteles maksud.
Pada usia 20 tahun, ayah Ibnu Sina meninggal dunia, kemudian ia meninggalkan Bukhara menuju jurjan, dan dari sini ia pergi ke khawarazm. Di jurjan ia mengajar dan mengarang,tetapiia tidak lama disini karena terjadinya kekacauan politik. Sesudah itu ia berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri lain, dan akhirnya sampai di Hamadzan dan diangkat menjadi menteri oleh penguasa negeri tersebut. Sesudah itu ia pergi ke Isfahan, dan dari penguasa negeri ia mendapat sambutan baik, serta berkali-kali diajak bepergian dan berperang.
Hidup Ibnu Sina penuh dengan kesibukan bekerja dan mengarang, penuh dengan kesenangan dan kepahitan hidup bersama-sama, dan boleh jadi keaadan ini telah mengakibatkan ia tertimpa penyakit yang tidak bias diobat lagi. Pada tahun 428 H(1037 M), ia meninggal dunia di Hamadzan, pada usia 58 tahun.

FILSAFAT AJARAN IBNU SINA


Inti aliran filsafat Ibnu Sina ini terdapat dalam filsafat ajaranya dimana Ibnu sina
mengemukakan bahwa filsafat adalah suatu pengetahuan otonom yang perlu ditimba atau dipelajari oleh setiap manusia karena ia telah dikarunia akal oleh Allah SWT.Sehingga kita dituntut untuk berfikir rasionalDan disini saya akan menguraikan sedikit tantang filsafat ajaran dari Ibnu Sina yaitu :

A) Tentang Wujud
Ibnu Sina tentang wujud, sebagaimana para filosof muslim terdahulu. Dari Tuhanlah kemaujudan yang mesti, mengalir intelegensi pertama sendirian karena hanya dari yang tunggal.
Kami mengatakan bahwa Tuhan, dan hanya Tuhan saja yang memiliki wujud tunggal, secara mutlak, sedang segala sesuatu yang lain memiliki kodrat yang mendua. Karena ketunggalanya, maka apakah Tuhan itu di nyatakan bahwa ia ada, bukanlah dua unsur dalam satu wujud tetapi satu unsure atomic dalam wujud yang tunggal.
Sesungguhnya menurut Ibnu Sina, Tuhan menciptakan sesuatu karena adanya keperluan yang rasional ini, Ibnu Sina menjelaskan pra-pengetahuan Tuhan tentang semua kejadian, seperti apa yang kita lihat dalam pembahasanya tentang Tuhan. Dunia, secara keseluruhan ada bukan hanya karena kebetulan, tetapi di berikan oleh Tuhan, ia di perlukan, dan keperluan ini diturunkan dari Tuhan.

B. Teori Fisika
Kajian yang di kemukakan Ibnu Sina dalam masalah ini adalah bersifat teori, dan obyeknya yaitu benda yang wujud, dimana ia terdapat dalam perubahan, diam , dan bergerak. Ilmu Fisika mempunyai beberapa dasar yang hanya bisa di ketahui oleh orang yang mendalami ilmu ketuhanan. Sebagai dasar-dasar itu adalah:
1. Benda (maddah), shurah (form), dan tiada (adam)
2. Gerak dan diam
3. Waktu atau masa
4. Tempat dan kekosongan, Terbatas dan tidak terbatas

Penjelasan:

1. Benda, surah, dan tiada

Setiap benda yang tersusun mempunyai tiga unsur, yaitu bendanya surah dan tiada.Demikian menurut Aristoteles. Sebelum terjadinya surah, meskipun benda itu satu jumlahnya, namun ia mengandung dua unsure yang berbeda. Pertama, adalah unsure yang tetap.Kedua, adalah yang terjadi akibat adanya perubahan.
Ibnu Sina mengambil teori tersebut dari Aristoteles dengan mengatakan bahwa benda alam terdiri dari maddah( bendanya). Sebagai tempat, dan dari surah, sebagai perkara yang bertempat padanya. Hubungan benda dengan surat sama dengan hubungan perak dengan patung. Jadi benda alam mempunyai tambahan (perkara yang mengikutinya) yaitu a’radl (sifat-sifat), seperti gerak, diam dan lain-lain.

2. Gerak dan Diam
Menurut Ibnu Sina Gerak adalah pergantian keadaan yang menetap pada benda sedikit demi sedikit, dengan menuju kepada arahnya yang tertentu.Ia menambahkan bahwa tiap-tiap gerak terdapat pada perkara yang bisa bertambah atau berkurang, sedangkan jauhar ( benda-benda kecil/atom ). Dengan demikian kejadian jauhar dan kemusnahanya tidak merupakan gerak, melainkan sesuatu yang terjadi dengan sekaligus. Atau bisa dikatakan perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain adalah gerak. Begitu pula perpindahan dari putih ke hitam dan bertambah atau berkurangnya sesuatu bentuk juga dikatakan gerak.
Tentang diam, maka dikatakan oleh Ibnu Sina sebagai tidak adanya gerak dari suatu yang bisa bergerak. Jadi perlawanan antara diam dengan gerak sama dengan perlawanan antara tiada dengan nyata.

3. Zaman
Zaman adalah ukuran (kadar) gerak yang bundar, dari segi maju mundurnya dan Ibnu Sina sependapat dengan Aristoteles. Apabila zaman itu adalah ukuran gerak, sedang zaman itu bukan baru ( dari segi zaman ) maka artinya gerak itu bukan hal yang baru.
Zaman tidak dijadikan dalam proses waktu, melainkan kejadian tersebut adalah ibda’ ( ciptaan ), dimana penciptaanya tidak mendahuluinya dari segi singkatan dan martabat. Kalau sekiranya zaman itu mempunyai sumber ( asal) maka berarti zaman itu terjadi sesudah ada zaman lain yang mendahuluinya. Sebab pengertian baru dalam zaman adalah bahwa zaman itu asalnya tidak ada kemudian menjadi ada.Jadi sekali lagi apabila zaman itu ukuran gerak dan zaman itu bukan baru, maka gerak itupun bukan hal yang baru.

4. Tempat, kekosongan, terbatas, dan tidak terbatas.
Tempat adalah sesuatu yang didalamnya terdapat suatu benda. Jadi tempat itu meliputi benda itu, memuatnya, terpisah darinya, terjadi suatu gerakan dan sama ( seimbang) dengan benda tersebut. Sebab tidak mungkin terdapat dua benda dalam satu tempat dan dalam masa yang satu pula. Tempat itu bukan benda (mamer = hule = materi ) bukan pula surah ( form), karena kedua-duanya hanya berada pada suatu yang terdapat dalam tempat.
Kemudian dalam soal kekosongan, ibnu sina tidak membenarkan adanya kekosongan, sebagaimana ia mengingkari adanya keterbatasan ( kadar) yang tak terhingga, atau adanya bilangan yang tidak berakhir ataupun gerak yang tidak berpangkal.

C.Ilmu Jiwa
Ibnu Sina tidak membenarkan mereka yang mempersatukan jiwa dengan badan, atau yang mengingkari wujudnya sama sekali atau menganggap badan sebagai sumber kegiatan pikiran yang bermacam-macam,atau dengan perkataan lain. Pembahasan Ibnu Sina tentang masalah jiwa, tidak keluar dari aliran filsafatnya secara global, meski dalam dalam usaha yang berkaitan dengan menghimpun, menyusun, mengompromikan atau menyeleksi. Dalam melakukan perpaduan, ia mempunyai tujuan tertentu yang ia miliki, tetapi ia juga mempunyai metode tersendiri di dalam melakukan perpaduan itu. Sehingga ia tetap memiliki karakteristik yang membedakan antara dirinya dengan para ahli lainya.

FILSAFAT IBNU SINA DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Ketika saya cermati Filsafat Ibnu Sina ini sangat berpengaruh sekali dimana ia adalah seorang pemikir islam yang intelek,dan islam sebagai agama yang sangat diagungkan, dimana didalam filsafat ini cenderung memberikan perhatiannya terhadap persoalan kejiwaan salah satunya pembahasan kejiwaan Ibnu Sina dalam al-Qur’an dan Hadis.
Dimana al-Qur’an dan Hadis merupakan sumber agama islam dan dapat dilihat, bahwasanya didalam kedua sumber ini banyak menyingung persoalan jiwa. Seperti didalam al-Qur’an dikatakan bahwa jiwa merupakan sumber hidup yang diambil dari Tuhan, terdapat dalam (Q.S. shad/38:71-72). Dan tempat kembalinya semua jiwa itu hanyalah kepada tuhan yang tercantum dalam ( Q.S. az-zumar/39:42).
Dan didalam Hadis menyinggung akhir jiwa kita sesudah mati,antara lain sikap kita terhadap pertanyaan dua malaikat dan adanya siksa kubur atau pahala yang dirasakan.

KESIMPULAN
Ibnu Sina memiliki pemikiran keagamaan yang sangat mendalam. Pemahamannya mempengaruhi pandangan filsafatnya.Ketajaman pemikirannya dan kedalaman keyakinan keagamaannya secara simultan mewarnai alam pikirannya.Ibnu Rusyd menyebutnya sebagai seorang yang agamis dalam berfilsafat, sementara al-Ghazali menjulukinya sebagai Filsuf yang terlalu banyak berfikir.
Dan setiap ajaran filsafat Ibnu Sina ini membahas tentang teori fisika,ilmu jiwa,dan tentang wujud Menurut Ibnu Sina bahwa alam diciptakan dengan jalan emanasi (memancar dari Tuhan). Tuhan adalah wujud pertama yang immateri dan dariNyalah memancar segala yang ada.Tuhan adalah wajibul wujud (jika tidak ada menimbulkan mustahil), beda dengan mumkinul wujud (jika tidak ada atau ada menimbulkan tidak mujstahil).

Mengungkap Tabir Filsafat Ajaran Ibnu Sina

By yatmizia ilham

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s