Asuransi Konvensional & Asuransi Syariah

Sejarah Berdirinya Asuransi
Perjanjian Asuransi yang bertujuan untuk berbagi Resiko antara penderita musibah dan perusahaan asuransi dalam berbagai macam lapangan, merupakan hal baru yang belum pernah dikenal dalam kehidupan Rasulullah saw, para sahabat dan tabi’in. Namun kini Perusahaan asuransi telah bermunculan seperti Asuransi laut dan kebakaran yang pertama kali muncul di Indonesia adalah Bataviansche zee & Brand assurantie maatshappij, didirikan pada tahun 1843. Pada tahun 1912 lahir perusahaan asuransi jiwa buni putera sebagai usaha pribumi.
Kebutuhan akan kehadiran jasa asuransi yang di dasari syariah diawali dengan mulai beroprasinya bank-bank syariah. Hal tersebut sesuai dengan UU no.7 tahun 1992 tentang perbankan dan ketentuan pelaksanaan bank syariah. Untuk itulah pada tanggal 27 juli 1993, ikatanCendekiawan Muslin se-Indonesia (ICMI) melalui yayasan Abdi bangsa Bersama bank Muamalat Indonesia dan perusahaal asuransi Tugu Sepakan mendirikan Asuransi takaful indonesai (TEPATI). TEPATI telah merealisasikan berdirinya PT. Syarikat TAKAFUL Indonesia sebagai Holding Company dan dua anak perusahaan PT. Asuransi takaful Keluarga dan PT. Asuransi takaful umum dua perusahaan tersebut di bentuk berdasarkan UU no.2 th.1992 tentang perusahaan asuransi yang didirikan secara terpisah.
Pendiri dua anak perusahaan PT.syarikat Takaful Indonesia adl dalam rangka penyesuaian dengan ketentuan Bab III pasal 3 UU no.2 th 1992 tentang usaha perasuransian yangt berbunyi:
1. Usaha asuransi kerugian yang memberikan jasa dalam penanggulangan resiko atas kerugian, kehilangan manfaat dan tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang timbul dari peristiwa yang tak pasti.
2. Asuransi jiwa yang memberikan jasa dalam penanggulangan resiko yang di kaitkan dengan hidup atau meninggal nya seseorang yang di pertanggungkan.
3. Asuransi yang memberikan jasa dalam pertanggungan ulang terhadap resiko yang dihadapi perusahaan asuransi kerugian dan perusahaan asyransi jiwa.
Prinsip Asuransi Syariah
meliputi :
1. Sesama muslim saling bertanggung jawab. Kehidupan di antara sesama muslim terikat dalam suatu kaidah yang sama dalam menegakkan nilai-nilai islam. Oleh karena itu, kesulitan seorang muslim dalam kehidupan menjadi tanggung jawab sesama muslim.
2. Sesama muslim harus bekerjasama atau saling bantu membantu. Seorang muslim akan berlaku bijak dalam kehidupan. Oleh karena itu, kesulitan seorang muslim dalam kehidupan menjadi tanggung jawab sesama muslim.
3. Sesama muslim harus saling melindungi penderitaan satu sama lain. Hubungan sesama muslim tersebut diibaratkan suatu badan, apabila suatu anggota tubuh terganggu maka seluruh tubuh tersebut akan merasakan gangguan tersebut atau sakit. Maka, saling tolong-menolong dan membantu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam sistem kehidupan masyarakat muslim.
Ketentuan operasi Asuransi syariah
Dalam operasinya, asuransi syariah berpegang pada ketentuan-ketentuan berikut:
1. Akad
Kejelasan akad dalam praktek muammalah merupakan prinsip karena akan menentukan SAHatau TIDAK SAH nya secara Syariah.demikian hal nya dengan asuransi, akad antara perusahaan dengan peserta harus jelas. Apakah akad-nya jual beli (tadabuh) atau tolong menolong (takaful).
2. Gharar
Definisi gharar menurut mazhab syafi’i adalah apa-apa yang akibatnya tersembinyi dalam pandangan kita dan akibat yang paling kita takuti. Apabila tidak lengkap nya rukun dari akad jual beli atau akad pertukara harta benda dalam hal ini adalah cacat secara hukum.
3. Tabarru’
Tabarru’ berasal dari kata Tabarra yatabarra tabarrauan, yang artinya sumbangan atau derma. Orang yang menyumbang disebut Mutabarri (dermawan). Niat tabarru’ merupakan alternatif uang yang sah dan diperkenankan. Tabarru’ bermaksud memberikan dana kebajikan secara ikhlas untuk tujuan saling membantu satu sama lain sesama peserta takaful, ketika diantara mereka ada ang mendapat musibah.
4. Maysir.
Islam menghindari adanya ketidak jelasan informasi dalam melakukan transaksi. Maysir pada hakekatnya muncul karena tidak di ketahuinya informasinya oleh peserta tentang berbagai hal yang berhubungan dengan produknya yang akan di konsumsi.
5. Riba
Keberadaan asuransi syariah yang paling substansial disebabkan adanya ketidak adilandalam asuransi dalam asuransi konvensional, misalnya upaya untuk melipatgandakan keuntungan dari praktek yang dilakukan dengan cara yang tidak adil. Semua asuransi konvensional menginvestasikan dana nya dengan bunga.
6. Dana Hangus
Dalam asuransi konvensional adanya dana yang hangus, dimana peserta yang tidak dapat bayar premi dan ingin mengundurkan diri sebelum masa Revising Perioid, maka dana peserta itu hangus. Demikian pula, asuransi non-tabungan atau asuransi kerugian jika habis masa kontraknya dan tidak terjadi klaim. Maka premi yang dibayarkan akan hangus sekaligus menjadi milik pihak asuransi.
Perbedaan Asuransi
Perbedaan asuransi syariah dengan konvensional meliputi:
1.) Keberadaan Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam perusahaan asuransi syariah merupakan suatu keharusan. Dewan ini berperan mengawasi manajemen, produk serta kebajikan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat islam.
2.) Prinsip asuransi syariah adalah takafulli (tolong menolong) sedangkan prinsip asuransi konvensional tadabuli (jual beli antara nasabah dengan perusahaan).
3.) Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan system bagi hasil (mudharabah). Sedangkan pada asuransi konvensional investasi dana dilakuin pada sembarang sector dan dengan menggunakan sistem bunga.
4.) Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Sedangkan pada asuransi konvensional premi menjadi milik perusahaan dan perusahaanlah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut.
5.) Untuk kepentingan pembayara klaim nasabah dana di ambil dari rekening tabarru’ seluruh. Peserta yang sudah di ikhlaskan untuk keperluan tolong menolong bila ada peserta yang terkena musibah. Sedangkan dalam asuransi konvensional, dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan.
6.) Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola, dengan prinsip bagi hasil. Sedangkan dalam asuransi konvensional, keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. Jika tidak ada klaim, nasabah tidak mendapatkan apa-apa.
Kendala pengembangan Asuransi
Dalam perkembangannya, asuransi syariah menghadapi beberapa kendala diantaranya:
1. Rendahnya tingkat perhatian masyarakat terhadap keberadaan asuransi syariah yang relative baru disbanding dengan asuransi konvensional yang telah lama masyarakat mengenal, baik nama dna oparisanya. Keadaan ini kadangkala menurunkan motivasi pengelola dan pegawai asuransi syariah untuk tetap mempertahankan idealismenya.
2. Asuransi bukanlah bank yang banyak berpeluang untuk bisa berhubungan dengan masyarakat dalam hal pendanaan atau pembiayaan. Artinya dengan produknya bank lebih banyak berpeluang untuk selalu bisa berhubungan dengan masyarakat. Dilain pihak, masyarakat memiliki sedikit peluang untuk berhubungan dengan asuransi syariah, berkenaan rendahnya kepentingan masyarakat terhadap produk asuransi syariah.
3. Asuransi syariah sebagaimana bank dan lembaga keuangan syariah lain, masih dalam proses mencari bentuk. Oleh karenanya, diperlukan langkah-langkah sosialisasi, baik untuk mendapatkan perhatian masyarakat maupun sebagai upaya masukan demi perbaikan system yang ada.
4. Rendahnya profesionalisme sumber daya manusia (SDM) menghambat laju pertumbuhan asuransi syariah. Penyediaan sumber daya manusia dapat dilakukan dengan kerja sama dengan berbagai pihak terutama lembaga-lembaga pendidikan untuk membuka atau memperkenalkan pendidikan asuransi syariah.
STRATEGI PENGEMBANGAN ASURANSI SYARIAH
Adapun strategi yang diperlukan untuk mengembangkan asuransi syariah diantaranya sebagai berikut:
1.Perlu strategi pemasaran yang lebih terfokus kepada upaya untuk memenuhi pemahaman masyarakat tentang asuransi syariah. Maka asuransi syariah perlu meningkatkan kualitas pelayanan (service quality) kepada pemenuhan pemahaman masyarakat ini, misalnya mengenai apa asuransi syariah, bagaimana operasi asuransi syariah, keunutngan apa yang didapat dari asuransi syariah dan sebagainya.
1. Sebagai lembaga keuangan yang menggunakan system syariah tentunya aspek syiar islam merupakan bagian dari operasi asuransi tersebut, syiar Islam tidak hanya dalam bentuk normatif kajian kitab misalnya , tetapi juga hubungan antara perusahaan asuransi dengan masyarakat. Dalam hal ini, asuransi syariah sebagai perusahaan yang berhubungan dengan masalah kemanusiaan (kematian, kecelakaan,kerusakan), setidaknya dalam masalah yang berhubungan dengan klaim nasabah asuransi syariah bisa memberikan pelayanan yang lebih baik dibanding dengan asuransi konvensional.
2. Dukungan dari berbagai pihak terutama pemerintah , ulama, akademisi dan masyarakat diperlukan untuk memberikan masukan dalam penyelenggaraan operasi asuransi syariah. Hal ini diperlakukan selain memberikan control bagi asuransi syariah untuk berjalan pada system yang berlaku, juga meningkatkan kemampuan asuransi syariah dalam menangkap kebutuhan dan keinginan masyarakat.

By yatmizia ilham

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s